NILAI SOSIAL BUDAYA DALAM TRADISI UPACARA POUASI FE (PEMBERI SESAJI ) DI DESA ALOR KECIL KECAMATAN ALOR BARAT LAUT

Authors

  • Leonard Lobo Staf Pengajar pada Program Studi PPKN FKIP Undana

Keywords:

Nilai Sosial Budaya, Tradisi pouasi fe (pemberian sesaji)

Abstract

Masalah dalam penelitian ini adalah Mengapa upacara pouasi fe (pemberian sesaji) masih dilakukan oleh Masyarakat di Desa Alor Kecil Kecamatan Alor Barat Laut? Bagaimana proses pelaksanaan tradisi upacara adat pouasi fe (pemberian sesaji) di Desa Alor Kecil kecamatan Alor Barat Laut? Nilai apa yang terkandung dalam tradisi Pouasi fe (pemberian sesaji) yang ada di Desa Alor Kecil Kecamatan Alor Barat Laut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan yaitu data primer yang diperoleh langsung dari informan melalui wawancara dan data sekunder dalam penelitian ini adalah data yang diperoleh dari desa. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara dan dokumentasi dengan maksud untuk mengumpulkan data sesuai dengan masalah penelitian. Hasil ini menunjukkan bahwa lain proses persiapan dimana tua adat memberitahukan pada seluruh tokoh masyarakat untuk duduk bersama-sama untuk dan membahas tentang rencana upacara pouasi fe dilakukan, setelah ada kesepakatan bersama sesuai dengan hari yang sudah disepakati bersama, tua adat dan tokoh masyarakat pergi ke rumah adat Manglolong dengan tujuan untuk tutu kire (bicara adat). (2) pada proses ini tua adat tutu kire(bicara adat) memberitahukan maksud dari kedatangan tua adat dan tokoh masyarakat dalam tutu kire (bicara adat) tersebut dilanjutkan sesuai dengan kesepakatan bersama.(3) pada proses selanjutnya yaitu tokoh adat beleta (menyiapkan) perlengkapan-perlengkapan untuk upacara pouasi fe berupa 1 ekor kambing,1 ekor ayam, beras, sirih, pinang, tembako, daun koli, kopi, the dan kue (4) lalu pada proses selanjutnya pada keesokan harinya setelah semua perlengkapan alat dan bahan sudah disiapkan tua adat akan memeriksa kembali perlengkapan tersebut jika belum memenuhi syarat maka akan di lakukan perundingan lagi untuk memenuhi semua perlengkapan sampai semuanya lengkap. Setelah semuanya sudah lengkap dan smua tokoh masyarakat sudah berkumpul tua adat akan memimpin doa meminta perlindungan sebelum mereka berjalan menuju tempat di mana di lakukan upacara adat tersebut (5) tua adat dan tokoh masyarakat menyeberangi lautan untuk sampai ke tempat proses pelaksanaan upacara pouasi fe mengunakan motor laut, setelah sesampainya disana tua adat akan amur (berdoa adat) memberitahu maksud mereka datang, setelah itu tokoh masyarakat memasak sama-sama di tempat itu tetapi menggunakan cara tradisional berupa menyalakan api menggunakan gesekan amboo, memasak nasi dengan menggunakan periuk tanah, memberikan rokok dengan cara mengunakan lipatan daun koli yang berisi tembako. (6) setelah smuanya sudah masak tua adat dan tokoh masyarakat akan menyiapkan makanan untuk persembahan setelah sudah tersedia tua adat dan tokoh masyarakat berjalan menuju pesisir pantai dan melepaskan makanan yang sudah dimasak sambil tua adat amur-amur (berdoa adat) setelah itu tua adat akan berdoa untuk keselamatan untuk tua adat dan tokoh masyrakat kembali ke rumah masing-masing

References

Abdulsyani. 2002. Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Anwar, Yesmil. 2013. Sosiologi untuk Universitas. Bandung: PT Refika Aditama.

Hanafi. 2003. Pengertian dan Konsep-konsep Dalam Tradisi Daerah.Yogyakarta: PT Pustaka Bina Pressindo.http://www.scribd.com/doc/49302687/nilai-sosial-budaya-sebagai-faktor-pembentuk-kepribadian-bangsa

Koentjaraningrat.1994. Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT Rineka Cipta

Koentjaraningrat.1999. Pengantar Antropologi I. Jakarta:PT Rineka Cipta

Koentjaraningrat. 2005. Pengantar Antropologi I. Jakarta:PT Rineka Cipta

Koentjaranigrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta

Koentjaraningrat. 2011. Pengantar Antropologi I dan Kebudayaan Masyarakat: Edisi Revisi Cetakan Kesembilan. Jakarta: Renika Cipta.

Karhynto. 2014. Pengaruh nilai-nilai kearifan lokal upacara adat labuhan merapi terhadap perilaku dan ajaran agama islam masyarakat lereng merapi.(skripsi)

Mardimin. 1994. Jangan tangisi tradisi. Yogyakarta: kanisius.

Margono. 2005. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Gramedia Pustaka.

Moleong. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosada Karya.

Moleong. 2008. Metodelogi penelitian kualitatif. Bandung: Rosada Karya

Rahma. 2011. Tradisi Hang Wue dalam upacara kelahiran di Desa Siru, Kecamatan Lembor Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.(skripsi)

Ranjabar, J. 2014. Sistem Sosial Budaya Indonesia Suatu Pengantar. Bandung: Alfabeta.

Soelaeman, M. 2005. Ilmu Budaya Dasar Suatu Pengantar. Bandung: PT. Refika Aditama.

Sugiyono. 2004. Metode Penelitiaan. Bandung

Syarbaini. 2009. Dasar-dasar Sosiologi. Graham Ilmu. Jakarta: Bentara Wisata Komunikasi.

Saputri, D. 2018. Nilai-nilai religious dalam tradisi upacara adat tetaken gunung lima.

Soekanto, Soerjono.1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitiaan Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2015. Metodelogi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif). Bandung: Alfabeta.

Ship. S. 1981. Pengertian Dalam Tradisi Kebudayaan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Shipley.1962. Makna-makna Konsep Kebudayaan. Yogyakarta: PT Pustaka Bina Grafindo.

Soekanto. 1982. Sosiologi hukum dalam masyarakat. Jakarta: Rajawali.

Soekanto. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Grafindo Persada.

Wati, Herlitanti. 2013. Pengaruh dan nilai-nilai pendidikan upacara sedekah bumi terhadap masyarakat desa banging kecamatan kabupaten kebumen.

Wiranata. 2002. Pengertian dan Konsep-konsep Kemasyarakatan. Bandung: CV Remaja Karya.

Yulyani, Eka. 2010. Makna tradisi selamatan petik pari sebagai wujud nilai-nilai religious masyarakat desa petungsewu kecamatan wagir kabupaten malang.

Downloads

Published

2021-04-03

Issue

Section

Articles