KOMERSIALISASI PEREMPUAN DALAM PIGURA BUDAYA PERKAWINAN ADAT MANGGARAI

Authors

  • Yohanis S. Sarong Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Nusa Cendana
  • Frans Gana Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Nusa Cendana

Keywords:

Komersialisasi, perempuan, perkawinana, belis

Abstract

Komersialisasi dapat dimaknai sebagai pemanfaatan perempuan menjadi lahan bisnis yang menghasilkan keuntungan. Komersialisasi perempuan ini sangat merugikan perempuan, perempuan yang seharusnya memiliki harga diri tinggi justru dinilai dengan uang, dijadikan alat pengepul rupiah. Sayangnya, perilaku buruk komersialisasi perempuan ini menjadi lumrah saja, baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan itu sendiri. Untuk keluar dari kondisi ini tentu perempuan harus mampu menempatkan diri dalam tatanan kehidupan sosial, dengan menghargai diri sendiri. Jika perempuan belum mampu menghargai dirinya sendiri maka mustahil laki-laki bisa menghargainya. Salah satu yang harus dipahami oleh perempuan adalah terkait watak, karena akan memiliki  implikasi terhadap perilaku yang dinilai oleh orang lain.Watak matre harus perempuan hilangkan, watak matre ini adalah watak yang beranggapan bahwa dalam menjalani hubungan harus realistis yaitu harus uang untuk  menjalani hubungan. Aspek uang bukan lagi keperluan tapi keharusan. Matre dalam hal ini berarti mengejar sesuatu karena uang, bukan karna keikhlasan atau karena cinta. Bentuk perkawinan adat Manggarai dibagi menjadi tiga, yaitu perkawinan Cangkang, perkawinan Tungku dan perkawinan Cako. Belis merupakan pembayaran sejumlah uang atau hewan yang diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan. Belis memiliki nilai yang mengandung makna penghargaan terhadap seorang perempuan.

 

References

Afrizal. (2014). Metode Penelitian Kualitatif: Sebuah Upaya Mendukung Penggunaan Penelitian Kualitatif dalam Berbagai Disiplin Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Bernstein, B. (1972). A Sociolinguistic Approach to Socialization with Some Reference to Educability: The Ethnography of Communication. Edited by John Joseph Gumperz and Dell H. Hymes. New York: Holt, Rinehart, and Winston.

Bungin, B. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Prenada Media.

Bustan, F. (2005). “Wacana budaya tudak dalam ritual penti pada kelompok etnik Manggarai di Flores Barat: sebuah kajian linguistik budaya”.Disertasi. Denpasar: Program Doktor (S3) Linguistik Universitas Udayana.

Bustan, F., Josua, B., and Semiun, A. (2017). The Features of Anthropomorphic Metaphor in the Manggarai language. Balti: LAP LAMBERT Academic Publishing.

Bustan, F., dan Se, R. (2013). “Dinamika sistem ekonomi dalam realitas sosial guyub budaya Rongga di Flores.” Penelitian Fundamental. Jakarta: DP2M Dikti Depdiknas Jakarta

Cassirer, E. (1987).Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esai tentang Manusia. Diterjemahkan oleh Alois A. Nugroho. Jakarta: Gramedia.

Coolhaas, W. P. (1942). Menjenguk masyarakat Manggarai. Amsterdam: Tweede Reeks.

Deki,T.K. (2011).Tradisi lisan orang Manggarai:Membidik persaudaraan dalam bingkai sastra. Jakarta: Parhhesia Institute. Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. Cambridge: Cambridge UniversityPress. Erb, M. (1999). The Manggaraians: A Guide to Traditional Lifestyles. Singapore: Times Editions.

Faisal, S. (1990). Penelitian Kualitatif: Dasar-dasar dan Aplikasi. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh (YA3). Foley, W. A. (1997). Anthropological Linguistics: An Introduction. Oxford: Blackwell. Geertz, C. (1973). The Interpretation of Culture: Selected Essays. New York: Basic Books

Geertz, C. (2001). “Agama sebagai sistem kebudayaan.” Dalam Dekonstruksi Kebenaran: Kritik Tujuh Teori Agama. Daniel L. Pals (Ed.). Diterjemahkan oleh I. R. Muzir dan M. Syukri. Yogyakarta: IRCISoD

Goodenough, W. H. (1964). “Cultural anthropology and linguistics. In Language in Culture and Society: A Reader in Linguistics and Anthropology. New York: Harper & Row.

Gleason, H. A. (1961). An Introduction to Descriptive Linguistics.New York: Holt, Rinehart and Winston.

Gordon, T. W. (2002). Saussure untuk Pemula. Diterjemahkan oleh Mey Stiyanta dan Hendrikus Panggalo. Yogyakarta: Kanisius.

Garzilli, E. (1995). Whether inheritance to women is a viable solution to the dowry problemin India. Journal of southAsiaWoman Studies, 1(1), 33-45. Janggur, P. (2010). Butir-butir adat Manggarai. Yayasan siri Bongkok:Ruteng.

Hasan, R. (1989). Linguistics, Language and Verbal Art. Victoria: Deakin University. Hymes, D. (1974). Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic Approach. Philedelphia: University of Pensylvania Press.

Janggur, P. (2010). Butir-butir adat Manggarai. Yayasan siri Bongkok: Ruteng.

Kaplan, D., dan Albert, A. M. (1999). Teori Budaya. Diterjemahkan oleh L. Simatupang. Yogyakarta: Pusat Pelajar.

Keesing, R. M. (1981). “Theories of culture.” Dalam Language, Culture, and Cognition:Anthropological Perspectives. Edited by Ronald W. Casson. New York: Macmilan.

Koentjaraningrat. (1992). Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: DIAN Rakyat.

————, (2004). Kebudayaan,Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta:Gramedia. Kovecses, Z. (2009). “Metaphorical meaning making: discourse, language and culture”. Quardens de Filologia. Estudis Linguistics. Vol. XIV (2009) 135-151. 15

Miller, R. L. (1968). The Linguistic Relativity Principle and Humboldtian Ethnolinguistics: A History and Appraisal. Paris: The Hague

Muhadjir, N. (1995). Metodologi Penelitian Kualitatif: Telaah Positivistik, Rasionalistik,Phenomenologik, Realisme Metaphisik. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Nusa Putra. (2011). Penelitian Kualitatif: Proses dan Aplikasi. Jakarta: Indeks.

Palmer, G. B. (1996). Toward a Theory of Cultural Linguistics. Austin: The University of Texas Press.

Palmer, G. B., and Farzad, S. (2007). “Applied cultural linguistics: an emerging paradigm.” In Applied Cultural Linguistics. Edited by Farzard Sharifian and Gary B. Palmer. Amsterdam: John Benjamin.

Prawijaya, G. (6 November 2012). Polisi bantu masyarakat. Pos Kupang. Diakses dari http://kupang.tribunnews.com. Pada tanggal 12 November 2012.

Schneider, D. (1976). “Notes toward a theory of culture”. InMeaning in Anthropology. Edited by Keith H. Basso and Henry A. Selby. Albuquerque: University of New Mexico Press.

Spradley, J. P. (1997).Metode Etnografi. Diterjemahkan oleh M. Z. Elizabeth. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Stross, B. (1981). “Language, culture and cognition.” In Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. Edited by Ronald W. Casson. New York: Macmilan.

Kramsch, K. (2001). Language and Culture. Oxford: Oxford University Press.

Kupper, A. dan Jessica, K. (2000). Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial. Diterjemahkan oleh Haris Munandar, et al. Cetakan I. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Larasati, A. (2012). Kepuasan perkawinan pada istri ditinjau dari keterlibatan suami dalam menghadapi tuntutan ekonomi dan pembagian peran dalam rumah tangga. Jurnal psikologi pendidikan dan perkembangan, 1(03), 159-164. ISSN: 2301-7104.

Lawang, D., & Purwaningsih, I. (2010). Makna belis dalam suku Mardang di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur: Tinjauan Psikososiokultural. Jurnal Indigenous, 1, 1-14.

Lisa, H. (2006).Tantangan pembangunan di NTT (No. 20). The SMERU research Institute

Sudikan, S. Y. (2005).Metode Penelitian Kebudayaan. Surabaya: Unesa Unipress bekerjasama dengan Citra Wacana.

Suriasumantri, J. S. (2001). Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tatengkeng, D. A. (2009). Tradisibelis dalam perkawinan suku Dawan (Tesis tidak terpublikasi). Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tuname, A. (2012). Kompiang belis isi marxisme? Retrieved from http:// alfredtuname.blogspot.com/2012/05/ kompiang-belis-isi-marxisme-sedikit. html pada tanggal 22 April 2013

Verheijen, A. J. (1967). Kamus bahasa Manggarai: Manggarai-Indonesia jilid 1.Amsterdam: Koninklijk Instituut Voor Taal & Land En Volkenkunde.

Verheijen, A. J. (1970). Kamus bahasa Manggarai: Indonesia-Manggarai jilid 2.Amsterdam: Koninklijk Instituut Voor Taal & Land En Volkenkunde

Wallace, A. F. C. (1981). “Culture and cognition.” DalamLanguage, Culture and Cognition: Anthropological Perspectives. Edited by Ronald W. Casson. New York: Macmilan.

Wardaugh, R. (2011). An Introduction to Sociolinguistics. New Jersey, United States: Wiley-Blackwell.

Downloads

Published

2021-06-26

Issue

Section

Articles